Friday, 26 February 2016

Belajar dan Pembelajaran


Pembelajaran sebagai suatu sistem instruksional mengacu pada pengertian sebagai perangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan (Djamarah, 2002:10).
Pembelajaran terjemahan dari kata “instruction” yang terdiri dari self instruction (dari dalam internal) dan eksternal instruction (dari eksternal). Pembelajaran yang bersifat internal antara lain datang dari guru yang disebut teaching atau pengajaran. Dalam pembelajaran yang bersifat eksternal prinsip-prinsip belajar dengan sendirinya akan menjadi prinsip-prinsip pembelajaran (Sugandi, 2004:9).
Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa pembelajaran dapat berhasil jika ada feed back atau balikan yang baik antara guru dengan peserta didik atau siswa. Seorang guru harus berusaha sebaik mungkin agar siswa dapat membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan memahami apa yang dipelajari, sehingga akan membentuk suatu perubahan pada diri siswa sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Jika sudah terjadi feed back antara guru dan siswa maka diharapkan tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai.
Pada hakekatnya pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik secara terprogram agar siswa mampu belajar secara aktif. Proses pembelajaran dilakukan untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa.
Darsono (2000:25) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran yaitu sebagai berikut:
a.       Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.
b.      Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
c.       Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa.
d.      Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
e.       Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.
f.       Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologis.

Sebagai suatu sistem, pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga antar semua komponen terjadi kerjasama, karena itu guru tidak hanya memperhatikan komponen-komponen tertentu saja, tetapi ia harus memperhatikan dan mempertimbangkan komponen secara keseluruhan.
Salah satu model yang dilakukan untuk menarik perhatian siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung yaitu melalui pembelajaran dengan melakukan apersepsi atau pembukaan dengan menghubungkan materi yang telah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan.
Apersepsi ini dilakukan untuk menarik perhatian siswa sehingga siswa fokus pada materi yang diberikan dan dalam pemberian materi sebaiknya harus disertai media yang mendukung sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien, kemudian mengakhiri pelajaran dengan menarik kesimpulan (Sudjana, 2005:148).
Variasi gaya penyajian, model pembelajaran, menggunakan media yang menarik disesuaikan dengan materi pelajaran, maka diharapkan proses pembelajaran tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan dan dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.
Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan merubah tingkah laku siswa, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Perubahan tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan prilaku siswa (Darsono, 2000:26).
Dalam rangka mencapai tujuan kurikuler lembaga menyelenggarakan serangkaian kegiatan pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Setiap kegiatan mengandung tujuan tertentu, yaitu suatu tuntutan agar subjek belajar setelah mengikuti proses pembelajaran menguasai sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan isi proses pembelajaran tersebut. Tujuan pembelajaran tersebut dikenal dengan nama tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus (TPU/TPK). TPU adalah tujuan yang hendak dicapai oleh suatu satuan kegiatan pembelajaran secara umum apa yang diharapkan dicapai subjek setelah mengikuti proses pembelajaran. Sedangkan TPK secara spesifik mengemukakan secara rinci berupa pesan-pesan pembelajaran yang menjadi indikator kemampuan belajar yang dirumuskan dalam TPU, (Sugandi,2004:22).
Dengan adanya tujuan pembelajaran seperti yang diungkapkan diatas maka diharapkan akan diperoleh suatu manfaat yang jelas dari proses pembelajaran. Manfaat yang dapat diperoleh antara lain: a) pengajaran menjadi lebih baik dan efektif, b) hasil belajar dapat dicapai lebih efisien, c) model pembelajaran yang sesuai dapat dipilih secara lebih mudah, d) mudah cara menyusun alat evaluasi, e) hasil evaluasi akan lebih baik (Slameto, 2003:92).
Tujuan umum dalam belajar yaitu terjadi perubahan perilaku positif orang yang belajar. Perubahan prilaku dalam belajar dapat digolongkan dalam tiga klasifikasi seperti yang diungkapkan Bloom, dalam Darsono (2000:32-33).
a.       Cognitive Domein (Ranah kognitif)
Ranah kognitif terdiri dari: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesa dan evaluasi.
b.      Affective Domein (Ranah Afektif)
Ranah Afektif terdiri dari: penerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi dan pembentukan pola hidup.
c.       Psycomotoric Domein (Ranah Psikomotorik)
Ranah Psikomotorik terdiri dari: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan yang komplek dan kreativitas.


Dengan adanya tujuan dan perubahan perilaku dari proses pembelajaran seperti yang telah diungkapkan di atas, maka diharapkan seorang guru dapat memberikan suatu proses pembelajaran yang dapat menuju perubahan perilaku siswa baik ditinjau dari segi afektif, kognitif maupun psikomotorik.
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran untuk menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Menurut Djamarah (2002:48), kegiatan belajar mengajar sebagai suatu sistem mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi.
a.       Tujuan
Dalam kegiatan belajar mengajar, tujuan adalah cita-cita yang ingin disampaikan dalam kegiatannya. Dimana terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik.
b.      Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Bahan sebagai sumber belajar membawa pesan untuk tujuan pengajaran.
c.       Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.
d.      Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.


e.       Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat mempunyai fungsi yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan.
f.       Sumber Pelajaran
Sumber belajar merupakan bahan / materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Segala sesuatu dapat dipergunakan sebagai sumber belajar sesuai dengan kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
g.      Evaluasi

Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dan sesuatu.

Konsep Pembelajaran



Pembelajaran pada dasarnya adalah interaksi antara siswa dengan guru dan lingkungannya. Dengan demikian pembelajaran mengandung dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah mengajar dan belajar. Dalam proses belajar mengajar di dalam kelas, biasanya mengajar dilakukan oleh guru dan belajar dilakukan oleh siswa.
Perubahan cara pandang terhadap peserta didik, guru dan tujuan pendidikan telah mengubah pengalaman tentang konsep pembelajaran. Menurut konsep lama dalam pembelajaran, siswa dipandang sebagai individu yang kosong, belum mengetahui apapun dan hanya menerima ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru. Sebaliknya guru adalah manusia yang mempunyai pengetahuan dan wewenang penuh untuk menyampaikan pengetahuan kepada muridnya, selain itu guru pun dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar.
Seiring  dengan perkembangan pola pikir, konsep lama dalam pembelajaran mulai ditinggalkan.  Dan sebagai gantinya muncul pola pemikiran baru mengenai pembelajaran. Menurut konsep ini, mengajar bukan hanya usaha pemindahan pengetahuan, melainkan merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sehingga sasarannya tidak hanya pada sisi intelektual saja tetapi pada sisi emosional dan spiritual. Menurut Ismiyanto (Sutardi, 1995 : 47) dikatakan bahwa :
Konsep mengajar modern mengandung pengertian (1) belajar adalah memahami, (2) pengajaran terarah pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak, (3) dalam proses pembelajaran siswa aktif, dan (4) dalam proses pembelajaran minat memegang peranan penting.

Menurut konsep baru dalam pembelajaran, belajar adalah upaya menemukan. Dalam belajar siswa menggunakan atau mengubah lingkungan tertentu dan ia belajar mengenai lingkungan tersebut melalui akibat tindakannya dan tidak sekedar berhubungan dengan lingkungan. Oleh karena mengalami, maka siswa akan aktif belajar, sehingga strategi yang paling sesuai adalah pembelajaran penemuan atau penyelidikan (inquiry).
Soelaeman (1985 : 46) menyatakan bahwa “Belajar adalah memecahkan masalah, artinya dalam proses pembelajaran terjadi interaksi dengan lingkungan untuk memperoleh kepuasan”. Kepuasan tersebut dapat diperoleh melalui pemecahan masalah. Adapun hakikat belajar menurut  Djahiri (1996 : 41) adalah :
    Mengisi, membina dan mengembangkan serta memperluas keseluruhan potensi diri peserta didik (well educated and well trained) dengan substansi yang baik, benar dan tepat guna. Kelirulah para guru yang hanya mengutamakan target perolehan belajar substansial semata dan melupakan pembinaan dan peningkatan potensi diri. Bahan ajar hendaknya dimaknai sebagai target harapan isi dunia anak dan sekaligus pula media pembinaan potensi anak.
Ahmadi (1980 : 20) menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri manusia, apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan, maka tidak dapat dikatakan bahwa pada dirinya telah berlangsung proses belajar”. Begitu pula Morgan (Purwanto, 1984 : 80) mengemukakan bahwa : “…belajar sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari latihan dan pengalaman”. Lebih tegas lagi Cronbach (Surya, 1992 : 32) mengemukakan bahwa : “…belajar ditunjukkan dengan suatu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman”.
Lebih lanjut Samsudin (1999) mengemukakan ciri-ciri perubahan sebagai hasil dari perilaku belajar, yaitu :
a.         Perubahan bersifat intensional, dalam arti pengalaman atau praktek latihan yang dilakukan disadari serta disengaja dan bukan secara kebetulan. Dengan demikian perubahan karena kematangan, keletihan atau penyakit tidak dapat dipandang sebagai suatu perubahan hasil belajar.
b.         Perubahan bersifat positif, dalam arti sesuai dengan yang diharapkan (normative), atau kriteria keberhasilannya baik, baik dipandang dari segi siswa maupun dari segi guru.
Perubahan bersifat efektif dan fungsional, dalam arti belajar memberikan pengaruh dan makna bagi siswa, serta perubahan hasil belajar relatif tetap dan setiap saat diperlukan dapat direproduksikan dan dipergunakan kembali seperti dalam belajar penemuan (inkuiri), ujian, ulangan dan sebagainya, maupun dalam penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup

Penggunaan Teknik Rumpang untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Surat

Pelaksanaan Penggunaan Teknik Rumpang untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Surat Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas IV SD
1.     Perencanaan Pembelajaran Penggunaan Teknik Rumpang untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Surat 
       Ruang lingkup pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar,  Menurut KTSP (BSNP, 2006:18) mengemukakan bahwa ruang lingkup pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Maka berdasarkan ruang lingkup diatas bahwa pelajaran Bahasa Indonesia mengarah kepada kemampuan berkomunikasi, sehingga aspek-aspek di atas harus disesuaikan dengan bahan ajar, sebagaimana dalam setiap pembelajaran harus menggunakan RPP.
Menurut pedomam penyusunan KTSP (BNSP, 2008: 25-27)  penyusunan RPP mencakup langkah- langkah sebagai berikut ini.
a.    Menuliskan identitas
1)        Nama mata pelajaran
2)        Kelas/semester
3)        Pertemuan ke…
4)        Alokasi waktu
b.    Menuliskan SK dan KD dari silabus mata pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan tertentu.
c.    Menuliskan indikator pencapaian kompetensi yang telah dirumuskan dalam silabus.
d.   Merumuskan tujuan pembelajaran.
1)        Merumuskan tujuan yang hendak dicapai setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan kalimat operasional yang dapat diamati dan diukur.
2)        Rumusan tujuan terfokus pada pencapaian Kompetensi Dasar (KD).
e.    Memilih materi pokok pembelajaran.
1)        Rincian materi pokok pembelajaran berisikan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, yang dipilah, diklasifikasikan, dan atau dikelompokkan sebagai bahan/isi dalam kegiatan pembelajaran.
2)        Rincian materi pembelajaran ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
f.     Merumuskan metode pembelajaran.
Merumuskan metode pembelajaran sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar, dan indikator pencapaian kompetensi dasar, dengan memanfaatkan berbagai metode yang sesuai dengan materi/bahan yang ada, lingkungan dan tingkat perkembangan anak.
g.    Menyusun langkah-langkah pembelajaran.
Menyusun secara sistematik rencana kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
h.    Menentukan media/alat dan sumber belajar.
1)   Menetapkan media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar baik buatan guru maupun pabrikan.
2)   Menetapkan sarana prasarana yang diperlukan dalam kegiatan belajar (seperti lapangan olahraga, perpustakaan, kebun sekolah, laboratorium).
3)   Menentukan sumber belajar, buku teks pelajaran, film, nara sumber, dan bahan referensi lain yang relevan dengan SK, KD, dan materi pembelajaran.
i.      Menentukan prosedur penilaian, dan menyusun instrumen penilaian sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi dasar.

a.    Pengertian Teknik Rumpang
Teknik rumpang merupakan istilah diambil dari persepsi psikologi gestal yang merupakan proses ‘menutup’ sesuatu yang belum lengkap. Dalam teknik rumpang, tempat kosong sengaja disediakan dalam suatu wacana dengan menghilangkan kata-kata tertentu yang kesekian (ke-n: ke-5, ke-6, atau ke-7).
 Tugas siswa dalam tes ini adalah mengisikan kembali kata-kata yang dihilangkan tersebut. Untuk mengisikan kembali kata-kata itu secara tepat, siswa dituntut menguasai sistem gramatikal bahasa dan harus dapat memahami wacana.
Teknik rumpang pertama kali diperkenalkan oleh Wilson Taylor (Puji Santosa, dkk, 2009: 6.11) mengemukakan bahwa “...teknik isian rumpang konsepnya menjelaskan tentang kecenderungan manusia untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap secara mental menjadi satu kesatuan yang utuh; kecenderungan untuk mengisi atau melengkapi sesuatu yang sesungguhnya ada, namun tampak dalam keadaan yang tidak utuh, melihat bagian-bagian sebagai suatu keseluruhan.”
Berdasarkan konsep tersebut, dapat dikembangkanmenjadi sebuah alat ukur keterbacaan wacana  dengan sebutan Teknik Isian Rumpang. Teknik isian rumpang sebagai suatu metode yang dipergunakan untuk melatih daya tangkap pembaca/penyimak terhadap maksud/pesan penulis/pembicara dengan cara menyajikan secara tidak utuh dalam suatu wacana (merumpangkan bagian-bagian tertentu). Para pembaca/penyimak harus mampu mengolahnya menjadi sebuah pola yang utuh seperti wujudnya semula.
b.   Tujuan Penggunaan Teknik Rumpang 
Kemampuan siswa untuk mengisikan kata yang hilang dalam teks itu mirip dengan proses konstruktif. Jika konteksnya secara komplit bersifat redundan (melimpah/pengulangan), atau pengisian kata itu berupa peringatan, pengisian data itu tidak berbeda dengan melengkapi pola visual yang belum sempurna. Akan tetapi, jika konteksnya belum dikenal, pengisian kata menjadi lebih sulit dilakukan karena kita harus memahami konteks itu terlebih dahulu. Itu sebabnya teknik rumpang tepat digunakan
dalam mengukur kemampuan siswa untuk memahami suatu wacana (umumnya berupa tulisan, tetapi dapat juga secara lisan).
Teknik rumpang untuk mengukur kemahiran berbahasa siswa SD secara menyeluruh maka penghilangan secara sistematis terhadap kata-kata. Adapun variasi rumpang, terbuka dan jarak tempat kosong ini di buat seragam, membiarkan huruf pertama dari kata yang dihilangkan, menggunakan alternatif  pilihan ganda yakni setiap tempat yang dikosongkan dilengkapi 4 atau 5 alternatif jawaban. Teknik rumpang yang dikembangkan oleh Taylor (Muchlisoh, dkk, 1953) adalah “sejenis tes dalam bentuk wacana dengan sejumlah kata yang dikosongkan (rumpang) dan pengisi tes diminta mengisi kata-kata yang sesuai di tempat yang kosong itu.” Kebenaran isi jawaban akan dilihat dari naskah asli wacana tersebut. Tiga cara menghilangkan kata sebagai berikut:
1)   Menghilangkan kata pada urutan tertentu secara konsisten, tanpa membedakan jenis kata (the fixed-ratio method). Misalnya, apabila kata yang dihilangkan itu adalah kata yang ketujuh, maka setiap kata yang ketujuh dihilangkan secara konsisten.
2)   Menghilangkan kata pada urutan tertentu dengan ketentuan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pembuat tes (the variables-fixed ratio). Misalnya, kata itu akan dihilangkan apabila termasuk kata benda atau kata kerja.
3)   Menghilangkan kata pada urutan tertentu secara sistematis tetapi apabila kata pada urutan tertentu itu adalah nama tempat, nama diri, angka, tanggal, bulan, tahun, atau istilah, maka kata itu dilampaui dan dipilih kata berikutnya.
       Dari ketiga cara teknik menghilangkan kata di atas maka yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan cara yang pertama dengan menghilangkan kata yang ketujuh sebagai teknik rumpang yang sesuai dengan kebutuhan siswa kelas IV SD.
c.    Keunggulan dan Kelemahan Penggunaan Teknik Rumpang dalam Menulis Surat
 Menurut pendapat Wilson Taylor (Muchlisoh, dkk., 1995: 217) mengemukakan bahwa ada beberapa keunggulan teknik rumpang antara lain:
1)        Tugas bisa dinilai secara objektif, karena jarang ada yang lebih dari satu jawaban dari satu celah.
2)        Teknik rumpang hemat dan hasil yang diperoleh sekarang mendorong reabilitas dan validitas internal. Akan terlihat menggambarkan alternatif yang aktif pada prosedur rumpang.
3)        Memperlihatkan secara relatif teknik dalam bentuk ini terdapat dari nilainya sebagian besar perhatian telah diberikan mengenai yang dapat diterima umum sebagai ukuran kemampuan bahasa yang diberikan.

 Disamping keunggulan-keunggulan tersebut, teknik ini memiliki kelemahan. Menurut pendapat Schlezinger (Muchlisoh, dkk., 1995: 217)mengemukakan bahwa kelemahan-kelemahan pada teknik rumpang sebagai berikut:
1)        meragukan kevaliditasan penggunannya ketepatan pengisian bagian-bagian yang dihilangkan oleh seseorang belum tentu atas dasar wacana, melainkan didasarkan atas pola-pola ungkapan yang sudah dikenalnya
teknik ini cacat dari fakta bahwa menjengkelkan bagi para siswa yang harus mengolah teks yang harus dengan keras dan validitas luar prosedurrendah

Pembelajaran Menulis di Sekolah Dasar


1.        Hakikat Menulis
      “Menulis adalah kegiatan berbahasa tulis, pesan yang disampaikan penulis dan diterima oleh pembaca dijembatani melalui lambang bahasa yang dituliskan” (Suparno dan M. Yunus, 2011: 1.7).
Sabarti Akhadiah (Yeti Mulyati, dkk. 2009: 5.1) mengemukakan bahwa:
 menulis merupakan kemampuan yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Sehubungan dengan kompleksnya kegiatan yang diperlukan untuk kegiatan menulis, maka menulis harus dipelajari atau diperoleh melalui proses belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Menulis merupakan kegiatan yang kompleks sehingga melibatkan cara berpikir yang teratur dan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan teknik penulisan, antara lain: (1) adanya kesatuan gagasan; (2) penggunaan kalimat yang jelas; (3) paragraf disusun dengan baik; (4) penerapan kaidah ejaan yang benar; dan (5) penguasaan kosakata yang memadai.”


Berdasarkan uraian beberapa pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kemampuan seseorang dengan serangkaian proses kegiatan yang kompleks yang memerlukan tahapan-tahapan, dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan sehingga pembaca dapat memahami isi dari gagasan yang disampaikan. Dengan kata lain bahwa menulis merupakan serangkaian kegiatan yang akan melahirkan pikiran dan perasaan melalui tulisan untuk disampaikan kepada pembaca.
2.    Tujuan Menulis
Adapun tujuan menulis menurut Alfin, j.,dkk (2008:123) sebagai berikut:
a)                   Untuk memberi tahukan informasi
b)                  Untuk meyakinkan atau mendesak
c)                   Untuk menghibur atau menyenangkan
d)                  Untuk mengekspresikan perasaan dan emosi yang kuat

3.    Manfaat Menulis
Manfaat menulis menurut Bernard Percy (Alfin, j.,dkk, 2008:123) mengemukakan sebagai berikut:
a)                   Sarana untuk mengungkapkan
b)                  Sarana untuk pemahaman
c)         Membantu mengembangkan kepuasan pribadi, perasaan, kebanggaan,  hara diri
d)                  Menuingkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan
e)         Keterlibatan secara bersemangat dan bukannya penerimaan yang pasrah
f)         Mengemngkan suatu pemahaman dan kemampuan menggunakan  bahasa

4.    Langah-langkah Menulis
Britton (Alfin,j.,dkk, 2008:142) membagi langkah-langkah menulis ke dalam 3 tahapan yaitu:
a)      Tahap konsep, pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah memilih dan menentukan topik
b)      Tahap inkubasi, pada tahap ini kegiatan siswa adalah mengembangkan topik dan menggabungkan informasi yang tersedia

c)      Tahap hasil, pada tahap ini siswa melakukan kegiatan mengembangkan   tulisan/menulis siswa memeriksa tullisan

Thursday, 25 February 2016

KUMPULAN JUDUL SKRIPSI PENDIDIKAN



EFEKTIFITAS PENGGUNAAN BLOG DENGAN METODE SQ3R (SURVER, QUESTION, READ, RECITE AND REVIEW) TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI.

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN TANDA BACA PADA KARANGAN NARASI

PERAN  GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR

HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA TENTANG DAUR AIR MELALUI STRATEGI BELAJAR MODALITAS

HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA TENTANG DAUR AIR MELALUI STRATEGI BELAJAR MODALITAS

PENGARUH PENGGUNAAN COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAPbHASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP BANGUN RUANG

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF LEARNING TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI KOPERASI

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA SEKOLAH DASAR

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIK SISWA

PENGGUNAAN LINGKUNGAN  SEKITAR PADA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG KENAMPAKKAN ALAM DI SEKOLAH DASAR

PENGGUNAAN TEKNIK RUMPANGUNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS SURAT PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

MENINGKATKAN PEMAHAMAN PENINGGALAN SEJARAH DI TASIKMALAYA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PAPAN PAJANGAN

HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA TENTANG DAUR AIR MELALUI STRATEGI BELAJAR MODALITAS

PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWADALAM PEMBELAJARAN IPS TENTANG KOPERASI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY

PENGGUNAAN ALAT PERAGA LUAS DAERAH UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP KONSEP PENJUMLAHAN PECAHAN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIATENTANG PENGAYAAN KOSAKATA MELALUI PENERAPAN MODEL KONTEKSTUAL

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWAMELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF LEARNING TIPE JIGSAW PADA MATERI CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP

PENGGUNAAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SISWA TENTANG SIFAT-SIFAT CAHAYA

PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWADALAM OPERASI PENJUMLAHAN BILANGAN BULAT MELALUI PENGGUNAAN KANCING BERWARNA

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP LUAS DAERAH PERSEGI PANJANG MELALUI PERSEGI SATUAN  DI SEKOLAH DASAR



Strategi Belajar Modalitas Siswa

 

.
       Pengertian Strategi Belajar Sudjana (1989:28) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. Belajar merupakan proses aktif yang dilakukan oleh siswa untuk mereaksi segala sesuatu dalam situasi yang baru melalui berbagai pengalaman yang diperolehnya, sehingga diharapkan dapat terbentuk perubahan dan perkembangan tingkah laku.
       Di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Menurut J.R. David dalam Sanjaya (2008:126), strategi pembelajaran adalah sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. 2. Pengertian Modalitas Siswa Modalitas berarti gaya atau tipe. Modalitas belajar seseorang merujuk kepada gaya atau tipe belajarnya. Modalitas belajar (learning styles) juga merujuk kepada cara interaksi individu dengan sistem pesan atau rangsangan kemudian memproses dan menganalisa pesan tersebut di dalam otak untuk dijadikan pengetahuan. Modalitas belajar merupakan satu konsep yang paling penting dan perlu diberi tumpuan dalam aspek pendidikan di sekolah karena ia merupakan faktor utama membentuk seseorang individu. Siswa merupakan seseorang individu yang unik dan berbeda di antara satu sama lain walaupun mereka berada dalam tahap pembelajaran yang sama.
        Menurut DePorter (2002: 111) yang dimaksud dengan modalitas adalah cara termudah yang dimiliki oleh seseorang dalam menyerap informasi.


  •  Linguistik-Verbal Berpikir dalam kata-kata. Mencakup kemahiran dalam berbahasa. Contohnya : kemampuan untuk berbicara, menulis, membaca, menghubungkan, dan menafsirkan..
  • Logis-Matematis Berpikir dengan penalaran. Contohnya : kemampuan dalam pemecahan masalah secara logis dan ilmiah dan kemampuan matematis.
  • Spasial-Visual Berpikir dalam citra dan gambar. Contohnya : kemampuan untuk memahami ruang dan citra mental, dan secara akurat mengerti dunia visual.
  • Badan-Kinestetik Berpikir melalui sensasi dan gerak fisik. Contohnya : kemampuan untuk mengendalikan dan menggunakan badan fisik dengan mudah dan cekatan. 
  • Musikal-Ritmik Berpikir dalam irama dan melodi. Contohnya : kemampuan berpikir dengan menggunakan lagu, sehingga informasi lebih mudah diserap. 
  • Interpersonal Berpikir lewat komunikasi dengan orang lain. Contohnya : pada keterampilan dalam berbicara, sehingga dapat berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. 
  • Intrapersonal Berpikir secara reflektif. Contohnya : berpikir melalui kesadaran reflektif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. 
  •  Naturalis Berpikir dalam acuan alam. Contohnya : hubungan dan pola dalam dunia alamiah dan mengidentifikasi dan berinteraksi dengan proses alam.  
  • Karakteristik Modalitas Siswa a. Modalitas Visual Modalitas ini mengakses citra visual, yang diciptakan maupun diingat. Warna, hubungan ruang, dan gambar yang menonjol dalam modalitas ini. Model pembelajar visual menyerap informasi dan belajar dari apa yang dilihat oleh mata.
 Seseorang yang mempunyai modalitas visual, mungkin mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 

  1. Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan. 
  2. Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan. 
  3. Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh dan menangkap detail : mengngat apa yang dilihat. 
  4. Aktivitas kreatif: menulis, menggambar, merancang, mendesai (melukis di udara). 
  5. Cenderung berbicara cepat, tetapi memiliki sifat pendiam.

(ARTIKEL SKRIPSI) MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN INDUKTIF MATEMATIKA SISWA MELALUI PENDEKATAN EKSPLORASI PADA SIFAT-SIFAT BANGUN DATAR DI KELAS V SEKOLAH DASAR


ABSTRAK
        Penelitian ini berangkat dari latar belakang yang menunjukkan bahwa kemampuan penalaran induktif matematika siswa pada mata pelajaran matematika menunjukkan hasil yang kurang memuaskan khususnya dalam proses mengajukan dugaan, melakukan manipulasi matematika, serta menarik kesimpulan, membuktikan, dan memberika alasan. Sebagian besar guru masih melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah yaitu pada umumnya guru memulai pembelajaran langsung pada pemaparan materi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas model Kemmiss Taggart yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, serta refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN I ................ yang berjumlah 26 orang yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Berdasarkan hasil observasi, setelah menggunakan pendekatan eksplorasi, kemampuan penalaran induktif matematika siswa pada sifat-sifat bangun datar mengalami peningkatan tiap siklusnya. Pencapaian hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 53,85%, kemudian meningkat pada siklus II menjadi 69,23%, dan meningkat lagi pada siklus III menjadi 88,46%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Pendekatan eksplorasi dapat meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa di kelas V Sekolah Dasar Negeri I ................ Kecamatan ................ Kabupaten  .................

Kata Kunci : kemampuan penalaran induktif, pendekatan eksplorasi

I.     PENDAHULUAN
         Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan nasional adalah kurikulum. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menjabarkan dan menganalisis kurikulum merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang guru sebagai acuan pokok yang harus dikaji untuk merencanakan, melaksanakan, dan menindaklanjuti pembelajaran yang dibinanya. Kurikulum yang digunakan di Indonesia sekarang adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum ini memacu pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, sehingga dapat menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang sesuai dengan tuntutan zaman.
         Menurut Permendiknas No.22 (Depdiknas, 2006) tujuan pembelajaran  matematika salah satunya yaitu ”Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika”. Berdasarkan tujuan pembelajaran matematika tersebut, kemampuan penalaran merupakan salah satu kompetensi yang diharapkan muncul sebagai dampak dari pembelajaran matematika. Sayangnya idealisasi tujuan pembelajaran matematika menurut Permendiknas ini tidak diikuti dengan realitas di lapangan.
         Berdasarkan hasil observasi di kelas V SDN I ................ Kecamatan ................ Kabupaten ................, ditemukan bahwa kemampuan penalaran induktif matematika siswa masih rendah, hal ini terlihat ketika dalam pembelajaran,  siswa masih kesulitan dalam melakukan proses penalaran induktif matematika. Ketika siswa diberikan beberapa soal tentang sifat-sifat bangun datar seperti: Andi menggambar sebuah segi empat, lalu ia menandai titik tengah dan sisi-sisi segi empat, keempat titik tengah itu dihubungkan untuk memperoleh sebuah segi empat lain. Apa nama bangun segi empat tersebut? Apa alasannya?
         Pemberian soal-soal jenis penalaran induktif tersebut hanya dapat dijawab oleh sebagian kecil siswa (19,23%) atau sekitar lima orang dari 26 siswa keseluruhan. Sebagian kecil siswa berani mengajukan dugaan jawaban yang dikaitkan dengan sifat-sifat bangun datar beserta alasannya, sedangkan siswa lainnya hanya menjawab dengan dugaan tanpa alasan dan pembuktian, padahal dalam soal ini yang diharapkan dari jawaban siswa adalah siswa mampu menjawab soal tersebut melalui proses mengajukan dugaan, pembuktian  dan alasannya. Pemahaman materi tentang bangun datar pun belum mencapai optimal, hal ini terlihat ketika 50% atau sekitar 13 0rang siswa dari 26 orang siswa secara keseluruhan memperoleh nilai di bawah KKM (60). Selain itu, peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran matematika, terlihat bahwa pembelajaran yamg dilakukan menggunakan pendekatan pembelajaran tradisional yang kurang menekankan pada aktivitas siswa, guru hanya menyampaikan sifat-sifat, aturan, hukum atau konsepnya tanpa memfasilitasi siswa untuk mampu menciptakan suatu hipotesis (conjecture), selanjutnya mencari jawaban  untuk conjecture yang ia buat melalui kegiatan pengamatan dan penyelidikan. Dari hasil observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa penalaran induktif matematika siswa kelas V masih rendah.
        Untuk meningkatkan daya matematis siswa, pendekatan eksplorasi merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran yang mengarahkan kepada bagaimana siswa memiliki keleluasaan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Adanya keleluasaan dalam menemukan permasalahan dan mengeksplorasi kemampuan matematis siswa menandakan bahwa kecenderungan siswa untuk benar-benar menikmati pembelajaran, merangsang ketertarikan dan rasa penasaran serta tantangan untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya menjadi dapat diwujudkan. Dengan cara seperti itu, tujuan pembelajaran meningkatnya kemampuan penalaran induktif matematika siswa akan tercapai. Sehubungan dengan diberlakukannya Kurikulum 2006 yang pada dasarnya kemampuan penalaran merupakan salah satu kompetensi yang diharapkan muncul dalam pembelajaran matematika, maka penelitian tindakan kelas ini akan menerapkan pendekatan eksplorasi pada pembelajaran matematika SD.
         Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan pokok dalam penelitian ini dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan penelitian :  Bagaimana meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar di kelas V SDN I ................ Kecamatan ................ Kabupaten ................? Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar di SDN I ................ Kecamatan ................ Kabupaten ................. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran matematika terutama untuk meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa dengan menggunakan pendekatan eksplorasi pada   materi sifat-sifat bangun datar di kelas V SDN I ................. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah: Kemampuan penalaran induktif matematika siswa di kelas V SDN I ................ Kecamatan ................ Kabupaten ................ pada sifat-sifat bangun datar dapat meningkat apabila guru mampu merencanakan dan melaksanakan  proses pembelajaran melalui pendekatan eksplorasi secara optimal.

II. KAJIAN PUSTAKA
A.    Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
        Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Setiap guru yang akan melaksanakan pembelajaran di kelas, harus memiliki strategi serta persiapan agar proses pembelajaran dan hasil belajarnya bisa berjalan dengan baik. Kurikulum yang berlaku saat ini di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan dan potensi sekolah, karakteristik sekolah, sosial budaya setempat, dan karakteristik siswa. Kurikulum ini memacu pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, sehingga dapat menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang sesuai dengan tuntutan zaman.
engan baik.
         Pengertian matematika, menurut kurikulum 2006 (BSNP, 2006:36) menjelaskan bahwa :
  Matematika adalah mata pelajaran yang diberikan kepada semua siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, kreatif, kritis serta kemampuan kerja sama agar dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
         Kurikulum 2006 atau KTSP menggariskan bahwa: “Fungsi matematika secara umum adalah untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, serta bekerja sama”. Dengan mengetahui fungsi-fungsi matematika tersebut diharapkan guru dapat memahami adanya hubungan antara matematika dengan ilmu lain atau pun guru dapat memahami adanya hubungan antara matematika dengan berbagai ilmu dalam kehidupan.
            Menurut Permendiknas No.22 (Depdiknas, 2006) salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah ”Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Berdasarkan tujuan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar matematika bukan sekedar menghafal dan penanaman konsep semata,  tetapi ditekankan pada penguasaan kemampuan matematis seperti kemampuan penalaran dan kemampuan memecahkan masalah. Ruang lingkup matematika pada satuan pendidikan SD/MI yang terdapat dalam lampiran Permendiknas No.22 (Depdiknas, 2006) meliputi aspek-aspek: ”a) Bilangan, b) Geometri  dan pengukuran, serta c) pengolahan data”.
B.   Pendekatan Eksplorasi
         Eksplorasi berasal dari kata dasar eksplor. Kata “explore” berarti menjelajahi, menyelidiki, atau memeriksa. Sementara kata “exploration” berarti penjelajahan. (KBBI, 2006). Sementara itu pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Berdasarkan kedua kata tersebut dapat diungkapkan bahwa pendekatan eksplorasi merupakan cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran yang menuntut siswa untuk menghubung-hubungkan antara pengetahuan yang satu dan data lain, menyimpulkan dan melakukan analisis yang logis, membuat model matematikanya, menyusun dugaan, dan berabstraksi.
         Tahapan pembelajaran eksplorasi meliputi hal-hal sebagai berikut. 1) Diawali dengan masalah. Kegiatan pembelajaran diawali atau  disajikan dengan masalah. Masalah yang disajikan memiliki karakteristik; menarik bagi siswa, ada jawabannya, menantang (jawaban tidak segera ditemukan), mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi dan manipulasi, mendorong siswa menggunakan penalaran induktif. 2)       Pengumpulan data atau informasi. Setiap data atau informasi dari masalah yang disajikan dikumpulkan dan diidentifikasi, pengumulan data atau informasi dilakukan dengan cara mengidentifikasi apa yang diketahui, apa yang ditanyakan serta kondisi data yang ada (jumlah, keadaan). 3) Analisis data. Setiap data atau informasi yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis, dalam menganalisis data dibutuhkan kemampuan khusus yang sesuai dan dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah. 4) Penyimpulan. Pada tahap ini solusi permasalahan ditemukan untuk meyakinkan bahwa hal tersebut merupakan solusi, aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan adalah melihat kembali seluruh jawaban, mereviu.
C.  Penalaran Induktif Matematika
        Penalaran matematis terdiri dari dua bagian yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif adalah proses penalaran dari pengetahuan prinsip atau pengalaman yang umum yang menuntut kita memperoleh kesimpulan sesuatu yang khusus. Sedangkan penalaran induktif didefinisikan sebagai proses penalaran yang menurunkan prinsip atau aturan dari pengamatan hal-hal atau contoh-contoh khusus.
               Penalaran induktif dalam matematika digunakan untuk memperoleh dugaan-dugaan tentang rumus atau teorema. Rumus atau teorema yang diperoleh dengan penalaran induktif belum dapat dikatakan absah sebagai rumus atau teorema dugaan. Namun demikian penalaran induktif ini mempunyai peranan penting dalam memunculkan inspirasi untuk memperoleh rumus atau teorema dugaan. Penalaran induktif juga sangat penting dalam pembelajaran siswa di sekolah dasar karena penalaran ini mudah diikuti oleh para siswa, oleh karena itu pada kegiatan belajar ini banyak dibahas beragam contoh yang bervariasi dalam menerapkan penalaran induktif. Penalaran induktif bermula dari percobaan-percobaan atau contoh-contoh dan dari contoh-contoh tersebut dicari pola atau ciri kesamaannya untuk dapat disusun menjadi suatu kesimpulan yang berupa rumus/teorema dugaan.
      III. METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini yang dugunakan adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan jumlah tiga siklus. Model yang digunakan peneliti dalam PTK ini adalah model Kemmis dan Mc. Taggart. Langkah-langkah penelitian meliputi: perencanaan, tindakan dan observasi serta refleksi. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas V yang berjumlah 26 orang siswa yang terdiri dari 13 orang siswa perempuan dan 13 orang siswa laki-laki. Adapun tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Dalam Penelitian tindakan kelas ini peneliti dibantu dengan satu orang guru sebagai peneliti mitra (observer) yaitu guru kelas terutama dalam mengobservasi dan refleksi.
                                                              Penelitian siklus I dilaksanakan pada hari selasa tanggal 16 April 2010, siklus II dilaksanakan pada hari jumat, 19 April 2010, dan siklus III dilaksanakan pada hari selasa, 22 April 2010. PTK ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut : Tahap perencanaan yaitu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa, dan lembar evaluasi yang berorientasi pada penggunaan pendekatan eksplorasi untuk meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa pada sifat-sifat bangun datar, mempersiapkan lembar observasi perencanaan pembelajaran, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, dan lembar observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran, dan mempersiapkan media pembelajaran seperti gambar-gambar bangun datar. Tahap pelaksanaan terdiri dari rangkaian pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir yang berorientasi pada langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan eksplorasi. Tahap observasi meliputi kegiatan mengobservasi aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran. Tahap refleksi dilakukan dengan menganalisis dan merefleksi kemampuan guru dalam merancang RPP dan aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran.
             Instrumen yang digunakan dalam oenelitian ini adalah format observasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), format observasi aktivitas guru, dan format observasi aktivitas siswa. Pada siklus I siswa diberikan LKS dan soal evaluasi tentang sifat-sifat persegi panjang dan persegi, pada siklus II siswa diberikan LKS dan soal evaluasi tentang sifat-sifat jajar genjang dan belah ketupat, dan pada siklus III siswa diberikan soal evaluasi tentang sifat-sifat segitiga. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes, observasi dan wawancara. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah triangulasi, saturasi (kejenuhan), dan common sense.
IV.  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
        Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 13 April 2010, Siklus II dilaksanakan  pada hari Jumat, tanggal 16 April 2010 dan siklus III dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 20 April 2010 dengan alokasi waktu masins-masing siklus 3 x 35 menit. Peneliti bertindak sebagai pengajar dan peneliti mitra sebagai observer.
A. Perencanaan Pembelajaran
         Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tentang sifat-sifat bangun datar, materi tersebut dipelajari di kelas V semester II. Skenario dalam pembelajaran disusun berdasarkan langkah-langkah dalam pendekatan eksplorasi selama tiga jam pelajaran (3x35 menit). Pada perencanaan tindakan akan difokuskan pada kemampuan guru dalam merancang rencana dan melaksanakan pembelajaran serta meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan  eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar. Setelah memfokuskan tindakan, langkah selanjutnya mempersiapkan komponen-komponen pendukung untuk tindakan I seperti Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar kerja Siswa (LKS), dan lembar evaluasi untuk meningkatkan meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar. Kemudian mempersiapkan lembar observasi yang meliputi : lembar observasi rencana pelaksanaan pembelajaran, proses pelaksanaan pembelajaran, dan lembar observasi aktivitas siswa .
B.           Pelaksanaan pembelajaran
         Pada proses pembelajaran siklus I, siklus II, siklus III, langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya, walaupun masih mengalami hambatan dalam pengalokasian waktu yang telah direncanakan. Pada proses pembelajaran siswa terlihat lebih aktif terutama ketika mengerjakan LKS secara berkelompok. Secara umum Langkah-langkah pembelajaran yang dilaksanakan adalah sebagai berikut..
         Kegiatan awal secara garis besar langkah-langkahnya adalah guru mengkondisikan siswa pada pembelajaran yang kondusif, memberikan motivasi kepada siswa, melakukan apersepsi dan penyampaian tujuan pembelajaran. Kegiatan inti secara garis besar langkah-langkahnya adalah: Tahapan pembelajaran eksplorasi meliputi hal-hal sebagai berikut. 1) Diawali dengan masalah. 2) Pengumpulan data atau informasi. 3) Analisis data. 4) Penyimpulan