Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Wednesday, 12 October 2016

Pendekatan pembelajaran matematika

Pendekatan pembelajaran matematika yaitu cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa” (Suherman dkk, 2001:70). Adapun pendekatan pembelajaran yang cocok dengan kondisi yang telah  dipaparkan di atas adalah pendekatan investigasi. Istilah investigasi mulai diperkenalkan sejak terbitnya laporan dari Cockroft (Evan, 1987 dalam Syaban, 2009) yang menyatakan bahwa :
Pembelajaran matematika harus melibatkan aktivitas-aktivitas berikut: (1) eksposisi (pemaparan) guru; (2) diskusi di antara siswa sendiri ataupun antara siswa dan guru; (3) kerja praktek; (4) pemantapan dan latihan pengerjaan soal; (5) pemecahan masalah; (6) investigasi.

Beberapa pendapat para ahli tentang investigasi di antaranya, Height (Krismanto, 2004, dalam Syaban, 2009) mengatakan bahwa ‘Investigasi berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis’. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang dan selanjutnya orang tersebut mengomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkan hasil perolehannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.
Talmagae dan Hart (1977, dalam Syarif, 2009) menyatakan bahwa ‘Investigasi diawali oleh soal-soal atau masalah yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan pembelajarannya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur dengan ketat oleh guru’.
Investigasi secara bahasa adalah penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta, melakukan peninjauan, percobaan, dan sebagainya dengan tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan (tentang peristiwa, sifat atau khasiat zat, dan sebagainya) (KBBI Online, 2009). Menurut Bastow, et, al. (1984, dalam Lidinillah, 2008):
Investigasi matematika adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dapat mendorong suatu aktivitas percobaan (experiment), mengumpulkan data, melakukan observasi, mengidentifikasi suatu pola, membuat dan menguji kesimpulan/dugaan (conjecture) dan jika dapat pula sampai membuat suatu generalisasi.

Ketika melakukan suatu investigasi di kelas, perlu juga didukung dengan suasana belajar yang kondusif yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk menyelidiki sendiri masalah matematika yang dihadapinya. Oleh sebab itu, peran guru sangat berfungsi untuk selalu menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan. Menurut Flenor (1974, dalam Syarif, 2009), peran guru dalam kegiatan investigasi matematika adalah:
(1) sebagai motivator dan fasilitator yang mendorong siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru; (2) mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri atau kerja kelompoknya.

Adapun langkah-langkah pembelajaran investigasi menurut Vui (2001, dalam Syaban: 2009) adalah:
Langkah 1       : Pendahuluan dengan masalah
Membuat siswa tertarik dengan memotivasi dengan baik dan    membuat situasi yang dapat membangkitkan semangat.
Langkah 2       : Mengklarifikasi masalah
Menggunakan pertanyaan untuk menggambarkan     pertanyaan matematika yang pokok yang terdapat dalam masalah.
Langkah 3       : Mendisain investigasi
Guru membimbing siswa, baik secara individual maupun kelompok untuk memilih pemecahan yang          tepat yang paling memuaskan. Contoh pertanyaan bimbingan yang dapat diberikan adalah :
1)      Apa yang kita cari dalam masalah tersebut?
2)      Bagaimana kita dapat mencoba untuk memecahkan masalah?
3)      Apa pemecahan masalah yang tepat yang mungkin berguna?
Langkah 4       : Melaksanakan investigasi
Siswa membuat dan menguji hipotesis, mendiskusikan dan guru memberi pertanyaan-pertanyaan untuk membimbing siswa.
Langkah 5       :  Merangkum pembelajaran
Siswa membutuhkan waktu untuk mempresentasikan temuan mereka dan menjelaskan beberapa teori yang dimilikinya mengenai temuannya tersebut. Pertanyaan-pertanyaan mungkin dapat mengikat temuan tersebut bersama-sama dan memunculkan proses-proses yang dipakai selama investigasi.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan investigasi merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan kepada siswa untuk memecahkan masalah melalui berbagai kegiatan. Kegiatan belajar dimulai dengan memberikan masalah-masalah oleh guru, kemudian selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru. Peran guru bukan pemberi jawaban akhir dan bukan pula pemberi pertanyaan yang mengarah kepada jawaban akhir melainkan pemberi pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk menyelidiki masalah matematika yang dihadapinya. Artinya siswa sendirilah yang harus memunculkan pertanyaan dan menentukan satu atau lebih aspek yang akan diselidiki.

Monday, 18 April 2016

Pengertian Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa pada Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar


1.      Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
a.       Hakikat, Fungsi dan Tujuan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
1)      Hakikat Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Menurut kurikulum Sekolah Dasar 2006 (Badan Standar Nasional Pendidikan 2006: 29)
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjeng SD mata pelajaran IPS memuat materi geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata Pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Berdasarkan pernyataan di atas, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar adalah pembelajaran yang memberikan pengetahuan dasar yang kuat bagi peserta didik dalam memahami dan menguasai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pemahaman dan penguasaan tentang fenomena-fenomena sosial, mulai dari yang dekat dengan lingkungannya sampai dengan fenomena dunia. Kurikulum Sekolah Dasar 2006 (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006: 109) menegaskan pula bahwa “mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari Sekolah Dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerjasama.”
2)      Tujuan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Tujuan pembelajaran IPS di Sekolah Dasar berdasarkan kurikulum Sekolah Dasar 2006 (Badan Standar Nasional Pendidikan 2006: 29) adalah berikut ini :
Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.       Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dengan lingkungannya
2.       Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inquiri, memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari.
3.       Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4.       Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.

3)      Ruang Lingkup Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1.      Manusia, tempat, dan lingkungan
2.      Waktu, keberlanjutan dan perubahan
3.      Sistem sosial dan budaya
4.      Perilaku ekonomi dan kesejahteraan

b.      Program Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Kurikulum Sekolah Dasar 2006 (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006) menetapkan bahwa program pembelajaran IPS di Sekolah Dasar dikembangkan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar . Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006) ditetapkan sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan logis, sistematis, kritis  dan kreatif serta kemampuan bekerja sama sehingga dengan kemampuan tersebut peserta didik memiliki kemampuan untuk memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi dalam rangka bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pembelajaran IPS yng harus dikembangkan di Sekolah Dasar, menurut program pembelajaran IPS di kelas IV semester 1 (BSNP:2006) adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas IV

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1.    Memahami sejarah, kenampakkan alam, dan keragaman suku bangsa di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi

1.1   Membaca peta lingkungan setempat (kabupaten/kota, provinsi) dengan menggunakan skala sederhana.
1.2   Mendeskripsikan kenampakkan alam di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi serta hubungannya dengan keragaman sosial dan budaya.
1.3   Menunjukkan jenis dan persebaran sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan setempat
1.4   Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat (kabupaten/kota, provinsi)
1.5   Menghargai berbagai peninggalan sejarah di lingkungan setempat(kabupaten/kota, provinsi) dan menjaga kelestariannya
1.6   Meneladani kepahlawanan dan patriotisme tokoh-tokoh di lingkungannya

2.      Pengertian Pola Asuh Orang Tua
a.       Pola Asuh
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang berkepribadian baik, sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. Orang tua sebagai pembentuk yang pertama dalam kehidupan anak, dan harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Sebagai mana yang dinyatakan oleh Zakiyah Daradjat (1995: 56) bahwa “kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup merupakan unsure-unsur pendidikan yang secara tidak langsung akan masuk kedalam pribadi anak yang sedang tumbuh.”
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 54), “pola berarti corak, model, system, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap.” Sedangkan kata asuh berarti menjaga, merawat dan mendidik anak kecil, membimbing (membantu, melatih dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga.” Sehingga pola asuh berarti pendidikan, sedangkan pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.. Jika ditinjau dari terminologi, pola asuh anak adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga, merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif.
b.      Orang Tua
Pengertian orang tua menurut Hasan (2009:1) adalah “ Ibu dan Bapak kandung, seseorang bukan bapak atau ibu tiri, bukan pula bapak asuh atau ibu asuh, tetapi bapak atau ibu kandung siswa yang telah diikat oleh tali perkawinan yang sah menurut agama maupun secara administrasi pemerintahan”
Dari pengertian di atas jelaslah bahwa orang tua adalah bapak atau ibu kandung siswa yang telah melahirkannya. Mempunyai kewajiban membesarkan, mengasuh putra-putrinya agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Berbudi pekerti luhur, dapat hidup mandiri serta mampu mengatasi permasalahan dalam hidupnya dan yang paling penting orang tua harus memberikan perhatian yang penuh terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak.
Jadi pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, dimana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.
3.      Pengertian Prestasi Siswa
a.       Prestasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 700) prestasi adalah “hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan atau dikerjakan.” sedangkan menurut  Abdul Gafur, “prestasi adalah penguasaan siswa terhadap materi pelajaran tertentu yang telah diperoleh dari hasil tes belajar yang dinyatakan dalam bentuk skor.”
Berdasarkan pendapat diatas, penulis berkesirnpulan hahwa prestasi adalah segala usaha yang dicapai manusia secara pribadi atau kelompok secara maksimal dengan hasil yang dinyatakan dalam bentuk skor.
b.      Siswa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:951) “Siswa yaitu murid (terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah)”
Ini menunjukkan bahwa siswa mempunyai batasan tertentu di mana seseorang disebut siswa sampai ke jenjang pendidikan menengah atas.
B.     Bentuk Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak
Dalam mengelompokkan pola asuh orang tua dalam mendidik anak, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda, yang antara satu sama lain hamper mempunyai persamaan.
Menurut Abu Ahmadi (1991: 180) corak hubungan orang tua dan anak dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu
1.      Pola menerima-menolak, pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
2.      Pola memiliki –melepaskan, pola ini didasarkan atas sikap pritektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali.
3.      Pola demokrasi-otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai dictator terhadap anak, sedangkan dalam pola demokrasi sampai batas-batas tertentu anak dapat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan keluarga.

Menurut Danny I. Yatim Irwanto ( 1991:94), mengemukakan beberapa pola asuh orang tua yaitu:
1.      Pola asuh otoriter, pola ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi
2.      Pola Asuh Secara Demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka.
3.      Pola Asuh Permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar, memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya..
4.      Pola Asuh dengan ancaman, ancaman atau peringatan yang dengan keras diberikan pada anak akan dirasa sebagai tantangan terhadap otonomi dan pribadinya. Ia akan melanggarnya untuk menunjukknan bahwa ia mempunyai harga diri.
5.      Pola asuh dengan hadiah, yang dimaksud disini adalah jika orang tua mempergunakan hadiah yang bersifat material atau suatu janji ketika menyuruh anak berperilaku seperti yang diinginkan.
Sedangkan Marcolm Hardy dalam Soenardji (1986:131) mengemukakan empat macam pola asuh yang dilakukan orang tua dalam keluarga, yaitu:
1.      Autokratis (otoriter), ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua dan kebebasan anak sangat dibatasi.
2.      Demokratis ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak.
3.      Permisif ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya sendiri.
4.      Laissez faire ditandai dengan sikap acuh tak acuh orang tua terhadap anaknya.

Dari berbagai macam pola asuh yang dikemukakan di atas, penulis hanya akan mengemukakan tiga macam saja, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh penelantar. Hal tersebut dilakukan agar pembahasan menjadi lebih terfokus dan jelas.
1.      Pola Asuh Otoriter
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1988:692), “otoriter berarti berkuasa sendiri dan sewenang-wenang”. Menurut Singgih D. Gunarsa dan Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, pola asuh otoriter adalah “suatu bentuk pola asuh yang menuntut anak agar patuh dan tunduk terhadap semua perintah dan aturan yang dibuat orang tua tanpa ada kebebasan untuk mengemukakan pendapat sendiri”.
Jadi pola asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa kompromi dan tidak memperhitungkan keadaan anak, sertya orang tualah yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanyalah sebagai objek pelaksana saja. Jikas anak-anaknya menentang atau membantah, maka ia tak segan-segan memberikan hukuman. Jadi, dalam hal ini kebebasan anak sangatlah dibatasi. Apa saja yang dilakukan anak harus sesuai dengan keinginan orang tua.
Pada pola asuhan ini akan terjadi komunikasi satu arah. Orang tualah yang memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan dan keinginan anak. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua, karena menurutnya tanpa sikap keras tersebut anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya. Jadi anak melakukan perintah oprang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakannya itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak.
Penerapan pola asuh otoriter oleh orang tua terhadap anak, dapat mempengaruhi proses pendidikan anak terutama dalam pembentukan kepribadiannya, karena kedisiplinan yang dinilai efektif oleh orang tua secara sepihak belum tentu serasi dengan perkembangan anak. Prof. Dr. Utami Munandar (1992: 127) mengemukakan bahwa “sikap orang tua yang otoriter paling tidak menunjang perkembangna kemandirian dan tanggung jawab social. Anak jadi patuh dan rajin mengerjakan pekerjaan sekolah tetapi kurang bebas.”
Disini perkembangan anak itu semata-mata ditentukan oleh orang tuanya. Sifat pribadi anak yang otoriter niasanya suka menyendiri, mengalami kemunduran kematangannya, ragu-ragu didalam semua tindakan, serta lambat berinisiatif. Anak yang dibesarkan di rumah yang bernuansa otoriter akan mengalami perkembangan yang tidak diharapkan orang tua. Anak akan menjadi kurang kreatif jika orang tua selalu melarang segala tindakan anak yang sedikit menyimpang dari yang seharusnya dilakukan. Larangan dan hukuman orang tua akan menekan daya kreatifitas anak yang sedang berkembang, anak tidak akan berani mencoba, dan ia tidak akan berani mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak ada kesempatan untuk mencoba. Anak akan takut untuk mengemukakan pendapatnya, ia merasa tidak dapat mengimbangi teman-temannya dalam segala hal, sehingga anak menjadi pasif dalam pergaulan. Lama-lama ia akan mengalami perasaan rendah diri dan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.
Karena kepercayaan terhadap diri sendiri tidak ada, maka setelah dewasa pun masih akan terus mencari bantuan, perlindungan dan pengamatan. Ini berarti anak tersebut tidak berani memikul tanggung jawab.
Adapun ciri-ciri pola asuh otoriter adalah sebagai berikut:
a.       Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak boleh membantah.
b.      Orang tua cenderung mencari kesalahan anak dan kemudian menghukumnya
c.       .Orang tua cenderung memberi perintah dan larangan kepada anak.
d.      Jika terdapat perbedaan antara orang tua dan anak maka anak disebut pembangkang.
e.       Orang tua cenderung memaksakan disiplin.
f.       Orang tua cenderung memaksakan segala sesuatu untuk anak dan anak hanya sebagai pelaksana.
g.      Tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak.
2.      Pola Asuh Demokratis
Menurut Prof. Dr. Utami Munandar (1992:98), “pola asuh demokratis adalah cara mendidik anak, dimana orang tua menentukan peraturan-peraturan tetapi dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak”.
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orang tua dan anak. Dengan kata lain pola asuh demokratis ini memberi kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua.
Orang tua juga selalu memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Hal tersebut dilakukan orang tua dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Pola asuh demokrasi ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anak. Mereka membuat aturan-aturtan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuki mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya. Jadi dalam pola asuh ini terdapat komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
Pola asuh demokrasi ini dapat dikatakan sebagai kombinasi dari dua pola asuh ekstrim yang bertentangan, yaitu pola asuh otoriter dan laissez faire. Polaasuhan demokratik ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya dan belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain. Orang tua bersifat sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak.
Dengan pola asuhan ini anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap perilakunya sendiri dengan hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakiat. Hal ini mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri, bertnggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri. Daya kreatifitasnya berkembang baik karena orang tua merangsang anaknya untuk mampu berinisiatif..
Rumah tangga yang hangat dan demokratis, juga berarti bahwa orang tua merencanakan kegiatan keluarga untuk mempertimbangkan kebutuhan anak agar tumbuh dan berkembag sebagai individu dan bahwa orang tua memberinya kesempatan berbicara atas suatu keputusan semampu yang diatasi oleh anak. Sasaran orang tua adalah mengembangkan individu yang berpikir yang dapat menilai situasi dan bertindak dengan cepat.
Menurut Fromm dalam Abu Ahmadi (1991: 180) bahwa “anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratik, perkembangannya lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. “ Dalan pola asuh dan sikap orang tua yang demokratis  menjadikan adanyakomunikasi yang logis, adanya kehangatan yang membuat anak merasa diterima oleh orang tua sehingga ada pertautan perasaan. Oleh karena itu, memungkinkan mereka untuk memahami, menerima, dan menginternalisasi pesan nilai moral yang diupayakan untuk diapresiasikan berdasarkan kata hati.


Adapun ciri-ciri pola asuh demokratis adalah sebagai berikut :
a.           Menentuka peraturan dan disiplin dengan memperhatikan dan mempertimbangkan alasan-alasan yang dapat diterima, dipahami dan dimengerti oleh anak.
b.          Memberikan pengarahan tentang perbuatn baik yang perlu dipertahankan dan yang tidak baik agar ditinggalkan.
c.           Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian.
d.          Dapat menciptakan keharmonisn dalam keluarga.
e.           Dapat menciptakan suasana yang komunikatif antara orang tua dan anak serta sesama keluarga.
Dari berbagai macam pola asuh yang banyak dikenal, pola asuh demokratis memberi dampak positif yang lebih besar dibandingkan dengan pola asuh otoriter maupun lassez faire. Dengan pola asuh demokratis anak akan menjadi orang yang mau menerima kritik dari orang lain, mampu menghargai orang lain, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya.
3.      Pola Asuh Penelantar
Pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan orang tua. Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan atau menyalahkan anak. Akibatnya anak akan berprilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak peduli apakah perilaku itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Pada pola asuh inianak dipandang sebagai makhluk hidup yang berpribadi bebas. Anak adalah subjek yang dapat bertindak dan berbuat sesuai hati nuraninya. Orang tua membiarkan anaknya mencari dan menentukan sendiri apa yang diinginkannya. Kebebasan sepenuhnya diberikan kepada anak. Orang tua seperti ini cenderung kurang perhatian dan acuh tak acuh terhadap anaknya. Metode pengelolaan anak ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja, lemah, tergantung dan bersifat kekanak-kanakan secara emosional.
Seorang anak yang belum pernah belajar untuk mentoleransi frustasi, karena ia diperlakukan terlalu baik oleh orang tuanya akan menemukan banyak masalah ketika dewasa. Dalam perkawinan dan pekerjaan, anak-anak yang manja tersebut mengharapkan orang lain untuk membuat penyesuaian terhadap tingkah laku mereka. Ketika mereka kecawa mereka menjadi gusar, penuh kebencian dan bahkan marah-marah. Pandangan orang lain jarang sekali dipertimbangkan, hanya pandangan mereka yang berguna.
Adapun yang termasuk ciri pola asuh penelantar adalah sebagai berikut :
a.       Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan membimbingnya.
b.      Mendidik anak acuh tak acuh, bersikap pasif dan masa bodoh.
c.       Mengutamakan kebutuhan material saja.
d.      Membiarkan apa saja yang dilakukan anak (terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan dan norma-norma yang digariskan orang tua)
e.       Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga.
Setiap tipe pola asuh memiliki resiko masing-masing. Pola asuh penelantar membuat anak merasa boleh berbuat sekehendak hatinya. Anak cenderung memiliki rasa percaya diri yang besar, kemampuan sosial baik, dan tingkat depresi lebih rendah tetapi akan memungkinkan terlibat dalam kenakalan remaja dan memiliki prestasi yang rendah di sekolah.
Anak membutuhkan dukungan dan perhatian dari keluarga dalam menciptakan karyanya oleh karena itu, pola asuh yang dianggap cocok untuk mengembangkan kraetifitasnya adalah demokratif. Dalam pola asuh ini orang tua memberi kontrol terhadap anaknya dalam batas-batas tertentu. Melalui pola asuh ini, anak juga dapat merasa bebas mengungkapkan kesulitannya, kegelisahannya kepada orang tua dan senantiasa meminta bantuan untuk mencari jalan keluar tanpa merasa didikte.
C.    Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Siswa pada Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Usia sekolah adalah usia yang rentan bagi anak. Pada usia ini anak mempunyai sifat imitasi atau meniru terhadap apapun yang telah dilihatnya. Orang-orang dewasa yangpaling dekat dengan anak adalah orang tua. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak yang mempunyai pengaruh sangat besar. Haryoko (1997: 2) berpendapat bahwa lingkungan sangat besar pengaruhnya sebagai stimulans dalam perkembangan anak. Orang tua mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan kepribadian anak. 
Pembelajaran tentang sikap, perilaku dan bahasa yang baik sehingga akan terbentuknya kepribadian anak yang baik pula, perlu diterapkan sejak dini. Orang tua merupakan pendidik yang paling utama, guru serta teman sebaya yang merupakan lingkungan kedua bagi anak. Kebutuhan yang diberikan melalui pola asuh, akan memberikan kesempatan pada anak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sebagian dari orang-orang yang berada di sekitarnya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua mempunyai hubungan  yang sangat besar terhadap prestasi siswa pada pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.

Tuesday, 8 March 2016

Konsep Pembelajaran


Pembelajaran pada dasarnya adalah interaksi antara siswa dengan guru dan lingkungannya. Dengan demikian pembelajaran mengandung dua jenis kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah mengajar dan belajar. Dalam proses belajar mengajar di dalam kelas, biasanya mengajar dilakukan oleh guru dan belajar dilakukan oleh siswa.
Perubahan cara pandang terhadap peserta didik, guru dan tujuan pendidikan telah mengubah pengalaman tentang konsep pembelajaran. Menurut konsep lama dalam pembelajaran, siswa dipandang sebagai individu yang kosong, belum mengetahui apapun dan hanya menerima ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru. Sebaliknya guru adalah manusia yang mempunyai pengetahuan dan wewenang penuh untuk menyampaikan pengetahuan kepada muridnya, selain itu guru pun dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar.
Seiring  dengan perkembangan pola pikir, konsep lama dalam pembelajaran mulai ditinggalkan.  Dan sebagai gantinya muncul pola pemikiran baru mengenai pembelajaran. Menurut konsep ini, mengajar bukan hanya usaha pemindahan pengetahuan, melainkan merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sehingga sasarannya tidak hanya pada sisi intelektual saja tetapi pada sisi emosional dan spiritual. Menurut Ismiyanto (Sutardi, 1995 : 47) dikatakan bahwa :
Konsep mengajar modern mengandung pengertian (1) belajar adalah memahami, (2) pengajaran terarah pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak, (3) dalam proses pembelajaran siswa aktif, dan (4) dalam proses pembelajaran minat memegang peranan penting.

Menurut konsep baru dalam pembelajaran, belajar adalah upaya menemukan. Dalam belajar siswa menggunakan atau mengubah lingkungan tertentu dan ia belajar mengenai lingkungan tersebut melalui akibat tindakannya dan tidak sekedar berhubungan dengan lingkungan. Oleh karena mengalami, maka siswa akan aktif belajar, sehingga strategi yang paling sesuai adalah pembelajaran penemuan atau penyelidikan (inquiry).
Soelaeman (1985 : 46) menyatakan bahwa “Belajar adalah memecahkan masalah, artinya dalam proses pembelajaran terjadi interaksi dengan lingkungan untuk memperoleh kepuasan”. Kepuasan tersebut dapat diperoleh melalui pemecahan masalah. Adapun hakikat belajar menurut  Djahiri (1996 : 41) adalah :
    Mengisi, membina dan mengembangkan serta memperluas keseluruhan potensi diri peserta didik (well educated and well trained) dengan substansi yang baik, benar dan tepat guna. Kelirulah para guru yang hanya mengutamakan target perolehan belajar substansial semata dan melupakan pembinaan dan peningkatan potensi diri. Bahan ajar hendaknya dimaknai sebagai target harapan isi dunia anak dan sekaligus pula media pembinaan potensi anak.
Ahmadi (1980 : 20) menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri manusia, apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan, maka tidak dapat dikatakan bahwa pada dirinya telah berlangsung proses belajar”. Begitu pula Morgan (Purwanto, 1984 : 80) mengemukakan bahwa : “…belajar sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari latihan dan pengalaman”. Lebih tegas lagi Cronbach (Surya, 1992 : 32) mengemukakan bahwa : “…belajar ditunjukkan dengan suatu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman”.

Sunday, 6 March 2016

Pengertian, Karakteristik, dan Tujuan Pembelajaran IPA


Secara sederhana IPA didefinisikan sebagai ilmu tentang fenomena alam semesta (Mulyana, 2005:7). Dalam kurikulum pendidikan dasar terdahulu (1994) pengertian IPA sebagai hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan, dan pengujian gagasan-gagasan. Sedangkan dalam kurikulum 2004, IPA (sains) diartikan sebagai cara mencari tahu secara sistematis tentang alam semesta.
Dalam kurikulum 2006 yang lebih dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
Pendidikan IPA di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran IPA, guru sebagai pengelola langsung proses pembelajaran harus memahami karakteristik (hakikat) dari dari pendidikan IPA sebagaimana dikatakan (Depdiknas, 2006:47), bahwa:
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapakan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

            Tujuan utama yang ingin dicapai dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran IPA (Depdiknas, 2006:48), bahwa :
Mata pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
1.      Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2.      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
4.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5.      Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam.
6.      Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7.      Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.


Thursday, 25 February 2016

(ARTIKEL SKRIPSI) MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN INDUKTIF MATEMATIKA SISWA MELALUI PENDEKATAN EKSPLORASI PADA SIFAT-SIFAT BANGUN DATAR DI KELAS V SEKOLAH DASAR


ABSTRAK
        Penelitian ini berangkat dari latar belakang yang menunjukkan bahwa kemampuan penalaran induktif matematika siswa pada mata pelajaran matematika menunjukkan hasil yang kurang memuaskan khususnya dalam proses mengajukan dugaan, melakukan manipulasi matematika, serta menarik kesimpulan, membuktikan, dan memberika alasan. Sebagian besar guru masih melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah yaitu pada umumnya guru memulai pembelajaran langsung pada pemaparan materi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas model Kemmiss Taggart yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, serta refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN I ................ yang berjumlah 26 orang yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Berdasarkan hasil observasi, setelah menggunakan pendekatan eksplorasi, kemampuan penalaran induktif matematika siswa pada sifat-sifat bangun datar mengalami peningkatan tiap siklusnya. Pencapaian hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 53,85%, kemudian meningkat pada siklus II menjadi 69,23%, dan meningkat lagi pada siklus III menjadi 88,46%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Pendekatan eksplorasi dapat meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa di kelas V Sekolah Dasar Negeri I ................ Kecamatan ................ Kabupaten  .................

Kata Kunci : kemampuan penalaran induktif, pendekatan eksplorasi

I.     PENDAHULUAN
         Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan nasional adalah kurikulum. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menjabarkan dan menganalisis kurikulum merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang guru sebagai acuan pokok yang harus dikaji untuk merencanakan, melaksanakan, dan menindaklanjuti pembelajaran yang dibinanya. Kurikulum yang digunakan di Indonesia sekarang adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum ini memacu pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, sehingga dapat menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang sesuai dengan tuntutan zaman.
         Menurut Permendiknas No.22 (Depdiknas, 2006) tujuan pembelajaran  matematika salah satunya yaitu ”Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika”. Berdasarkan tujuan pembelajaran matematika tersebut, kemampuan penalaran merupakan salah satu kompetensi yang diharapkan muncul sebagai dampak dari pembelajaran matematika. Sayangnya idealisasi tujuan pembelajaran matematika menurut Permendiknas ini tidak diikuti dengan realitas di lapangan.
         Berdasarkan hasil observasi di kelas V SDN I ................ Kecamatan ................ Kabupaten ................, ditemukan bahwa kemampuan penalaran induktif matematika siswa masih rendah, hal ini terlihat ketika dalam pembelajaran,  siswa masih kesulitan dalam melakukan proses penalaran induktif matematika. Ketika siswa diberikan beberapa soal tentang sifat-sifat bangun datar seperti: Andi menggambar sebuah segi empat, lalu ia menandai titik tengah dan sisi-sisi segi empat, keempat titik tengah itu dihubungkan untuk memperoleh sebuah segi empat lain. Apa nama bangun segi empat tersebut? Apa alasannya?
         Pemberian soal-soal jenis penalaran induktif tersebut hanya dapat dijawab oleh sebagian kecil siswa (19,23%) atau sekitar lima orang dari 26 siswa keseluruhan. Sebagian kecil siswa berani mengajukan dugaan jawaban yang dikaitkan dengan sifat-sifat bangun datar beserta alasannya, sedangkan siswa lainnya hanya menjawab dengan dugaan tanpa alasan dan pembuktian, padahal dalam soal ini yang diharapkan dari jawaban siswa adalah siswa mampu menjawab soal tersebut melalui proses mengajukan dugaan, pembuktian  dan alasannya. Pemahaman materi tentang bangun datar pun belum mencapai optimal, hal ini terlihat ketika 50% atau sekitar 13 0rang siswa dari 26 orang siswa secara keseluruhan memperoleh nilai di bawah KKM (60). Selain itu, peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran matematika, terlihat bahwa pembelajaran yamg dilakukan menggunakan pendekatan pembelajaran tradisional yang kurang menekankan pada aktivitas siswa, guru hanya menyampaikan sifat-sifat, aturan, hukum atau konsepnya tanpa memfasilitasi siswa untuk mampu menciptakan suatu hipotesis (conjecture), selanjutnya mencari jawaban  untuk conjecture yang ia buat melalui kegiatan pengamatan dan penyelidikan. Dari hasil observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa penalaran induktif matematika siswa kelas V masih rendah.
        Untuk meningkatkan daya matematis siswa, pendekatan eksplorasi merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran yang mengarahkan kepada bagaimana siswa memiliki keleluasaan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Adanya keleluasaan dalam menemukan permasalahan dan mengeksplorasi kemampuan matematis siswa menandakan bahwa kecenderungan siswa untuk benar-benar menikmati pembelajaran, merangsang ketertarikan dan rasa penasaran serta tantangan untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya menjadi dapat diwujudkan. Dengan cara seperti itu, tujuan pembelajaran meningkatnya kemampuan penalaran induktif matematika siswa akan tercapai. Sehubungan dengan diberlakukannya Kurikulum 2006 yang pada dasarnya kemampuan penalaran merupakan salah satu kompetensi yang diharapkan muncul dalam pembelajaran matematika, maka penelitian tindakan kelas ini akan menerapkan pendekatan eksplorasi pada pembelajaran matematika SD.
         Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan pokok dalam penelitian ini dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan penelitian :  Bagaimana meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar di kelas V SDN I ................ Kecamatan ................ Kabupaten ................? Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar di SDN I ................ Kecamatan ................ Kabupaten ................. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran matematika terutama untuk meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa dengan menggunakan pendekatan eksplorasi pada   materi sifat-sifat bangun datar di kelas V SDN I ................. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah: Kemampuan penalaran induktif matematika siswa di kelas V SDN I ................ Kecamatan ................ Kabupaten ................ pada sifat-sifat bangun datar dapat meningkat apabila guru mampu merencanakan dan melaksanakan  proses pembelajaran melalui pendekatan eksplorasi secara optimal.

II. KAJIAN PUSTAKA
A.    Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
        Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Setiap guru yang akan melaksanakan pembelajaran di kelas, harus memiliki strategi serta persiapan agar proses pembelajaran dan hasil belajarnya bisa berjalan dengan baik. Kurikulum yang berlaku saat ini di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan dan potensi sekolah, karakteristik sekolah, sosial budaya setempat, dan karakteristik siswa. Kurikulum ini memacu pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, sehingga dapat menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang sesuai dengan tuntutan zaman.
engan baik.
         Pengertian matematika, menurut kurikulum 2006 (BSNP, 2006:36) menjelaskan bahwa :
  Matematika adalah mata pelajaran yang diberikan kepada semua siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, kreatif, kritis serta kemampuan kerja sama agar dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
         Kurikulum 2006 atau KTSP menggariskan bahwa: “Fungsi matematika secara umum adalah untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, serta bekerja sama”. Dengan mengetahui fungsi-fungsi matematika tersebut diharapkan guru dapat memahami adanya hubungan antara matematika dengan ilmu lain atau pun guru dapat memahami adanya hubungan antara matematika dengan berbagai ilmu dalam kehidupan.
            Menurut Permendiknas No.22 (Depdiknas, 2006) salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah ”Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Berdasarkan tujuan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar matematika bukan sekedar menghafal dan penanaman konsep semata,  tetapi ditekankan pada penguasaan kemampuan matematis seperti kemampuan penalaran dan kemampuan memecahkan masalah. Ruang lingkup matematika pada satuan pendidikan SD/MI yang terdapat dalam lampiran Permendiknas No.22 (Depdiknas, 2006) meliputi aspek-aspek: ”a) Bilangan, b) Geometri  dan pengukuran, serta c) pengolahan data”.
B.   Pendekatan Eksplorasi
         Eksplorasi berasal dari kata dasar eksplor. Kata “explore” berarti menjelajahi, menyelidiki, atau memeriksa. Sementara kata “exploration” berarti penjelajahan. (KBBI, 2006). Sementara itu pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Berdasarkan kedua kata tersebut dapat diungkapkan bahwa pendekatan eksplorasi merupakan cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran yang menuntut siswa untuk menghubung-hubungkan antara pengetahuan yang satu dan data lain, menyimpulkan dan melakukan analisis yang logis, membuat model matematikanya, menyusun dugaan, dan berabstraksi.
         Tahapan pembelajaran eksplorasi meliputi hal-hal sebagai berikut. 1) Diawali dengan masalah. Kegiatan pembelajaran diawali atau  disajikan dengan masalah. Masalah yang disajikan memiliki karakteristik; menarik bagi siswa, ada jawabannya, menantang (jawaban tidak segera ditemukan), mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi dan manipulasi, mendorong siswa menggunakan penalaran induktif. 2)       Pengumpulan data atau informasi. Setiap data atau informasi dari masalah yang disajikan dikumpulkan dan diidentifikasi, pengumulan data atau informasi dilakukan dengan cara mengidentifikasi apa yang diketahui, apa yang ditanyakan serta kondisi data yang ada (jumlah, keadaan). 3) Analisis data. Setiap data atau informasi yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis, dalam menganalisis data dibutuhkan kemampuan khusus yang sesuai dan dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah. 4) Penyimpulan. Pada tahap ini solusi permasalahan ditemukan untuk meyakinkan bahwa hal tersebut merupakan solusi, aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan adalah melihat kembali seluruh jawaban, mereviu.
C.  Penalaran Induktif Matematika
        Penalaran matematis terdiri dari dua bagian yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif adalah proses penalaran dari pengetahuan prinsip atau pengalaman yang umum yang menuntut kita memperoleh kesimpulan sesuatu yang khusus. Sedangkan penalaran induktif didefinisikan sebagai proses penalaran yang menurunkan prinsip atau aturan dari pengamatan hal-hal atau contoh-contoh khusus.
               Penalaran induktif dalam matematika digunakan untuk memperoleh dugaan-dugaan tentang rumus atau teorema. Rumus atau teorema yang diperoleh dengan penalaran induktif belum dapat dikatakan absah sebagai rumus atau teorema dugaan. Namun demikian penalaran induktif ini mempunyai peranan penting dalam memunculkan inspirasi untuk memperoleh rumus atau teorema dugaan. Penalaran induktif juga sangat penting dalam pembelajaran siswa di sekolah dasar karena penalaran ini mudah diikuti oleh para siswa, oleh karena itu pada kegiatan belajar ini banyak dibahas beragam contoh yang bervariasi dalam menerapkan penalaran induktif. Penalaran induktif bermula dari percobaan-percobaan atau contoh-contoh dan dari contoh-contoh tersebut dicari pola atau ciri kesamaannya untuk dapat disusun menjadi suatu kesimpulan yang berupa rumus/teorema dugaan.
      III. METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini yang dugunakan adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan jumlah tiga siklus. Model yang digunakan peneliti dalam PTK ini adalah model Kemmis dan Mc. Taggart. Langkah-langkah penelitian meliputi: perencanaan, tindakan dan observasi serta refleksi. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas V yang berjumlah 26 orang siswa yang terdiri dari 13 orang siswa perempuan dan 13 orang siswa laki-laki. Adapun tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Dalam Penelitian tindakan kelas ini peneliti dibantu dengan satu orang guru sebagai peneliti mitra (observer) yaitu guru kelas terutama dalam mengobservasi dan refleksi.
                                                              Penelitian siklus I dilaksanakan pada hari selasa tanggal 16 April 2010, siklus II dilaksanakan pada hari jumat, 19 April 2010, dan siklus III dilaksanakan pada hari selasa, 22 April 2010. PTK ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut : Tahap perencanaan yaitu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa, dan lembar evaluasi yang berorientasi pada penggunaan pendekatan eksplorasi untuk meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa pada sifat-sifat bangun datar, mempersiapkan lembar observasi perencanaan pembelajaran, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, dan lembar observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran, dan mempersiapkan media pembelajaran seperti gambar-gambar bangun datar. Tahap pelaksanaan terdiri dari rangkaian pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir yang berorientasi pada langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan eksplorasi. Tahap observasi meliputi kegiatan mengobservasi aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran. Tahap refleksi dilakukan dengan menganalisis dan merefleksi kemampuan guru dalam merancang RPP dan aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran.
             Instrumen yang digunakan dalam oenelitian ini adalah format observasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), format observasi aktivitas guru, dan format observasi aktivitas siswa. Pada siklus I siswa diberikan LKS dan soal evaluasi tentang sifat-sifat persegi panjang dan persegi, pada siklus II siswa diberikan LKS dan soal evaluasi tentang sifat-sifat jajar genjang dan belah ketupat, dan pada siklus III siswa diberikan soal evaluasi tentang sifat-sifat segitiga. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes, observasi dan wawancara. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah triangulasi, saturasi (kejenuhan), dan common sense.
IV.  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
        Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 13 April 2010, Siklus II dilaksanakan  pada hari Jumat, tanggal 16 April 2010 dan siklus III dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 20 April 2010 dengan alokasi waktu masins-masing siklus 3 x 35 menit. Peneliti bertindak sebagai pengajar dan peneliti mitra sebagai observer.
A. Perencanaan Pembelajaran
         Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tentang sifat-sifat bangun datar, materi tersebut dipelajari di kelas V semester II. Skenario dalam pembelajaran disusun berdasarkan langkah-langkah dalam pendekatan eksplorasi selama tiga jam pelajaran (3x35 menit). Pada perencanaan tindakan akan difokuskan pada kemampuan guru dalam merancang rencana dan melaksanakan pembelajaran serta meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan  eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar. Setelah memfokuskan tindakan, langkah selanjutnya mempersiapkan komponen-komponen pendukung untuk tindakan I seperti Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar kerja Siswa (LKS), dan lembar evaluasi untuk meningkatkan meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematika siswa melalui pendekatan eksplorasi pada sifat-sifat bangun datar. Kemudian mempersiapkan lembar observasi yang meliputi : lembar observasi rencana pelaksanaan pembelajaran, proses pelaksanaan pembelajaran, dan lembar observasi aktivitas siswa .
B.           Pelaksanaan pembelajaran
         Pada proses pembelajaran siklus I, siklus II, siklus III, langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya, walaupun masih mengalami hambatan dalam pengalokasian waktu yang telah direncanakan. Pada proses pembelajaran siswa terlihat lebih aktif terutama ketika mengerjakan LKS secara berkelompok. Secara umum Langkah-langkah pembelajaran yang dilaksanakan adalah sebagai berikut..
         Kegiatan awal secara garis besar langkah-langkahnya adalah guru mengkondisikan siswa pada pembelajaran yang kondusif, memberikan motivasi kepada siswa, melakukan apersepsi dan penyampaian tujuan pembelajaran. Kegiatan inti secara garis besar langkah-langkahnya adalah: Tahapan pembelajaran eksplorasi meliputi hal-hal sebagai berikut. 1) Diawali dengan masalah. 2) Pengumpulan data atau informasi. 3) Analisis data. 4) Penyimpulan